Nama Bali United kini tengah menjadi pusat perbincangan oleh semua kalangan pecinta sepak bola Tanah Air. Setelah mengakuisisi izin resmi dari Persiram & Pusam (Putra Samarinda) pada 15/2/2015 lalu.

Setelah cukup dikenal publik sepak bola Tanah Air, tim berjuluk “Laskar Tridatu” ini terus melakukan pembenahan. Mulai dari kandang, finansial tim sampai proses pemilihan pemain yang jauh lebih selektif.

Perombakan Skuad Besar-Besaran Bali Utd FC

Saat tampil di ajang ISC (Indonesia Soccer Championship) A tahun 2016 lalu. Bali hanya mampu finish di urutan 12 dengan torehan 40 poin. Dimana saat itu, Bali di bawah arahan pelatih Yunan Helmi.

Ketika tampil di kompetisi resmi, Liga 1 Indonesia musim 2017. “Laskar Tridatu” tampil mengejutkan. Mereka mampu mengakhiri musim sebagai runner-up dengan perolehan 68 poin. Saat itu, Bali hanya kalah head to head dengan FC Bhayangkara yang dinobatkan sebagai jawara Liga 1 Indonesia musim 2017.

pxhere.com

Meski hanya mampu finish di tempat kedua, Bali mempunyai hak untuk mewakili Indonesia di babak kualifikasi Champions League Asia. Namun Bali tidak mampu menembus fase grup dan harus puas tampil di ajang AFC Cup.

Penampilan ini menjadi yang pertama bagi Bali di level Asia. Namun, Bali mampu menunjukan kelasnya dengan mencatatkan 1 menang, 2 kalah dan 2 kali bermain imbang.

Pada musim 2018 itu, Bali justru tampil kurang meyakinkan di ajang Liga 1 Indonesia. Bali harus puas mengakhiri musim di urutan 11 dengan hanya meraih 45 poin. Ini membuat pihak manajemen “Laskar Tridatu” cukup aktif. Tujuannya adalah untuk dapat mengembalikan level permainan Asia dari Bali.

Memasuki musim Liga 1 2019 ini, Bali melepas sahamnya menuju ke public. Tidak hanya itu, persiapan Bali juga tidak sembarangan. Mereka melakukan perombakan besar-besaran. Salah satunya adalah dengan mendatangkan pelatih baru. Adalah Stefano Cugurra Teco yang didatangkan Bali. Pelatih yang berhasil mengantarkan Persija Jakarta meraih gelar juara musim lalu ini diharapkan mampu mengembalikan level permainan Asia dari Bali.

pxhere.com

Komposisi Pemain Terkuat dan Terlengkap Indonesia

Bisa dikatakan Bali adalah “Real Madrid-nya Indonesia”. Karena memang tim ini dihuni oleh sederet pemain bintang. Sebut saja hadirnya gelandang tajam Timnas Indonesia, Stefano Lilipaly. Pemain naturalisasi ini adalah satu-satunya motor alur serangan Bali. Visi bermain dan pergerakan tak kenal lelah membuat Lilipaly merupakan sosok pemain yang selalu memberikan terror serius untuk pemain-pemain bertahan tim lawan.

Selain itu, Bali United juga masih memiliki sosok Melvin Platjie. Pemain yang berlabuh bersama Bali di musim 2018 lalu memang selalu memegang peran vital. Pemain berkembangsaan Belanda ini mampu menciptakan 10 gol dari 18 kesempatan tampil.

Di bawah arahan pelatih Teco, Melvin Platje merupakan salah satu penyerang berbahaya. Sebagai buktinya, pemain 30 tahun ini sukses menciptakan 4 gol dari 3 penampilan di ajang Piala Presiden tahun 2019 kemarin. Belum lagi sokongan dari Spasojevic di sektor depan menambah sektor depan Bali kian menakutkan.

Belum lagi sosok “Rising Star” baru Bali yaitu Mohammad Fahmi Al Ayyubi. Pemain berusia 23 tahun ini telah mampu menciptakan 4 gol dan 1 assist dalam 28 penampilan di ajang Liga 1 Indonesia musim 2018 lalu. Sebelum diboyong Bali, Fahmi Al Ayyubi adalah pemain dari Persela Lamongan. Bersama dengan Persela, dirinya mampu menciptakan 4 gol dari 20 penampilan pada musim 2017.

Kecepatan, kelincahan sampai shooting keras yang dimiliki Fahmi membuatnya menjadi salah satu winger modern Bali. Bahkan per 22/12/2018, nilai transfer dari Fahmi Al Ayyubi menyentuh angka 158 ribu Poundsterling atau setara dengan Rp. 2,8 M.

pxhere.com

Kebangkitan Sepak Bola Bali

Berita Liga Indonesia, tim kebanggaan masyarakat Bali ini telah berdiri pada tahun 1989. Awalnya tim ini beralamat di Jl. Basuki Rahmat No. 39 Samarinda. Merger terjadi akibat FC Pusam (Putra Samarinda) kolabs atau bankrupt sejak era Galatama dan Perserikatan.

FC Pusam merupakan klub yang dibiayai oleh Pemerintah Samarinda. Memanfaatkan lisensi Pusam untuk tampil di kompetisi Tanah Air. FC Pusam sukses keluar sebagai juara di musim 2008/2009 lalu pada gelaran Divisi Utama (Kasta 2) Liga Indonesia. Hasil inilah yang membuat FC Pusam akhirnya promosi menuju ke kasta tertinggi Liga 1 atau yang dulu bernama Liga Super.

Supaya terhindar dari kebangkrutan dan meningkatkan prestasi maupun daya jual klub. FC Pusam diambil alih oleh salah satu pengusaha tajir Tanah Air yaitu Pieter Tanuri. Akhirnya, FC Pusam beralih nama jadi FC Bali Utd. Akhirnya, tim yang awalnya bermarkas di Stadion Palaran – Samarinda ini berpindah ke Bali atau Stadion Wayan Dipta yang terletak di Gianyar, Bali.

Pada tahun 2015, Bali tampil cukup luar biasa dengan menjadi juara 3 ajang Bali Island Cup. Pada tahun yang sama, Bali mampu tembus babak 8 besar ajang Piala Presiden. Namun Bali juga gagal lolos dari fase grup ajang Piala Sudirman di tahun yang sama.

Dengan kehadiran sejumlah pemain-pemain berlabel bintang dan kualitas merata seluruh pemain. Bali United adalah salah satu kekuatan baru sepak bola di Indonesia. Bahkan tim kebanggaan warga Bali ini selalu menjadi salah satu calon juara di setiap musim.